Rabies Di Bumi Pertiwi

Kata rabies berasal dari bahasa Sanskerta kuno rabhas yang artinya melakukan kekerasan/kejahatan. Dalam bahasa Yunani, rabies disebut Lyssa atau Lytaa yang artinya kegilaan. Dalam bahasa Jerman, rabies disebut tollwut yang berasal dari bahasa Indojerman Dhvar yang artinya merusak dan wut yang artinya marah. Dalam bahasa Prancis, rabies disebut rage berasal dari kata benda robere yang artinya menjadi gila.

Konservasi Anjing

Banyak dari kita tidak memperdulikan keseimbangan ekosistem anjing,dari tahun ketahun populasi anjing menurun dan meningkat. Akan tetapi anjing liar yang kita ketahui berbeda dengan anjing jenis lainnya,Sekarang hanya ada sekitar 5.000 hingga 6.000 ekor anjing liar yang hidup di alam liar.

Kisah Cerita

Belajar konservasi anjing dengan menemukan inti sari melalui sebuah cerita dan selalu meningkatkan pemahaman sekaligus kecintaan terhadap anjing.

Dari Mata Ke Mata

Mata sebagai indra pelihat semua yang terekspos di muka bumi ini, baik dan buruk kita lihat,belajar dari dari tindakan dan reaksi kita terhadap anjing tersebut.

Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juli 2017

"Jhon Lemon" Sang Aktivis Konservasi Anjing Liar

ABC Radio Australia
Satu abad yang lalu ada 500.000 anjing liar Afrika atau African Panted dog di 39 negara di seluruh Afrika.
Sekarang hanya ada sekitar 5.000 hingga 6.000 ekor anjing liar yang hidup di alam liar.
Petugas Kebun Binatang Perth, John Lemon telah mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan anjing liar ini.
"Ketika saya di sini bukan di kebun binatang, saya berada di Afrika, itulah hidup saya," pendiri Painted Dog Conservation Incorporated kepada ABC Radio Perth.
"Aku mengaku saya adalah orang yang gila kerja tapi saya benar-benar ingin berusaha dan menyelamatkan satu spesies binatang saja dalam hidup saya yang singkat.

John Lemon membagi waktunya antara bekerja di kebun binatang Perth dan proyek konservasi di Afrika bagian Selatan.
Supplied: Perth Zoo

Mengapa anjing liar Afrika?

Bagi banyak pengunjung kebun binatang, kandang anjing Afrika bukan merupakan daya tarik utama.
Pola bercak kotor di bulu mereka, telinganya yang besar dan penampilan seperti anjing rumahan pada umumnya jika bukan terlihat eksotik pasti lucu, tapi John Lemon mengatakan kita tidak boleh menilai sesuatu dari kulit luarnya saja.
Jhon Lemon bersama dua rekannya
"Tapi kepedulian, sifat sosial mereka yang benar-benar telah memikat saya.”
"Mereka akan menjaga rekannya yang lemah, yang sedang sakit atau terluka.”
"Saya pernah melihat anjing liar ini hanya memiliki dua kaki karena kakinya terputus akibat jerat di alam liar namun masih mampu bertahan karena kawanan mereka kembali dan memberinya makan. "



Bulu mereka mungkin memiliki pola yang terlihat kotor tapi setiap pola itu unik sebagaimana sidik jari manusia, sementara kuping tegak mereka membantu mereka berkomunikasi.Anjing liar Afrika atau Painted dogs sebagai bagian dari program pengembangbiakan di Kebun Binatang Perth.
"Mereka menggunakannya untuk komunikasi sosial seperti yang kita lakukan dengan tangan kita," kata Lemon.
Mereka juga merupakan spesies yang berbeda.
"Mereka adalah satwa yang tidak diunggulkan, mereka bahkan tidak terkait erat dengan anjing domestik," kata Lemon.
"Mereka memiliki genus mereka sendiri yang terpisah.




Cita-cita sejak kecil

John Lemon dibesarkan di Dubbo, rumah dari Kebun Binatang Taronga Western Plains.
Pada kunjungan pertamanya ia mengatakan ia memutuskan hidup bersama hewan sebagai masa depannya.
"Saya pergi ke kebun binatang itu pada 28 Februari 1977 di kursi depan mobil pacar kakakku untuk menghadiri pembukaan kebun binatang Western Plains Zoo dan saya berkata, 'Saya ingin bekerja di sini satu hari".

"Seluruh hidup saya ditujukan untuk mencapai cita-cita itu - dan saya berhasil mewujudkannya."
Pada tahun 2000 ia adalah pengawas senior untuk karnivora dan primata di Dubbo dan telah cukup sukses mengembang biakan anjing liar Afrika di kebun binatang itu.
"Pada tahun 2000 saya beruntung memenangkan beasiswa untuk melakukan perjalanan ke Afrika, dan saya memutuskan saya harus berbuat lebih banyak.

"Jadi prioritas saya adalah saya berhenti dari pekerjaan saya yang bergaji tinggi, dan mengatakan kepada istri saya: 'saya akan menjual segala sesuatu, apakah kamu bersedia mendukung saya? Saya akan pergi ke Afrika dan membangun pusat rehabilitasi terbesar? dan kamp alam liar bagi anak-anak khusus untuk mendidik mereka mengenai satu spesies dimana saja di dunia '.
"Dan saya melakukannya di Zimbabwe."

Hidup antara Perth dan Afrika

Konservasi Anjing Liar Afrika berbadan hukum milik John Lemon didirikan pada tahun 2003.
Lembaga nirlaba ini sekarang menjalankan dua program di Zimbabwe, tiga di Zambia dan satu di Namibia - dan mereka mulai melihat hasilnya.
"Khususnya di Zimbabwe, di daerah kami bekerja ada sekitar 350 ekor anjing liar ketika kami memulai program ini, sekarang ada sekitar 750-800 ekor," kata Lemon.
"Jadi ada hasil langsung dari pekerjaan kami."


Sebagai bagian dari program ini, pekerja konservasi menghabiskan waktu dengan petani mendidik mereka bahwa anjing-anjing ini bukan ancaman bagi ternak mereka.
Mereka juga berusaha untuk memerangi perburuan dan membujuk masyarakat lokal bahwa melestarikan satwa liar ini dapat meningkatkan pariwisata.




"Apa yang kita harus lakukan adalah menciptakan alternatif dan menunjukkan kepada mereka bahwa satwa liar mereka adalah masa depan, dan bahwa tanpa satwa liar, orang tidak akan datang ke Afrika untuk mengunjungi."
 
John Lemon mengatakan ia berencana mengabdikan sisa hidupnya untuk anjing liar Afrika.
"Anjing-anjing ini telah ada selama 13 juta tahun, naumn mereka mungkin akan punah dalam masa hidup saya yang singkat.”
"Jika saya mampu mencegahnya, maka saya telah mampu melakukan pencapaian yang sangat baik semasa hidup saya dan itulah dunia yang ingin saya warisi.”

Diterjemahkan pukul 09 :00 WIB, 20/3/2017 oleh Iffah Nur Arifah dari artikel Bahasa Inggris disini.

Sumber Artikel :http://m.metrotvnews.com/abc/read/2017/03/20/8368122
 Sumber Foto : http://www.australiaplus.com/cm/rimage/8367896-16x9-medium.jpg?v=2%20460w
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSNGUuHBSHONmYeGZTd2WRlkPLxoELWLTIio1Q_S4SmkFj4veUT8w
data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBxMTEhUTExMVFhUXFxgZGBgYGBYYFxcYGRgXFxcVGBcYHSggGBom
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSrI7uatm0BIPs3G31rokWi1y5CDgAqtlgPVIeT_IT_1O3PVCph

Minggu, 16 Juli 2017

Ajag, Si Anjing Hutan yang Terancam Punah


Klasifikasi ilmiah: 
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mamalia
Ordo: Karnivora
Famili: Canidae
Genus: Cuon 
Spesies: Cuon alpinus 
Nama Indonesia:Ajag

Ajag (Cuon alpinus) adalah anjing hutan yang hidup di dataran Asia. Banyak yang beranggapan ajag sama dengan serigala (Canis lupus) , padahal meskipun hampir mirip, keduanya merupakan spesies yang telah berbeda pada tingkat genus. Bahkan dua subspesies ajag yakni Cuon alpinus javanicus dan Cuon alpinus sumatrensis merupakan anjing hutan asli (endemik) Indonesia yang mendiami pulau Sumatera dan Jawa.
Ajag termasuk salah satu binatang langka di Indonesia yang populasinya semakin menurun dan terancam kepunahan. Oleh IUCN Redlist, anjing hutan asli Indonesia ini dikategorikan dalam status konservasi  endangered (Terancam Punah).

Ajag sering pula disebut ajak mempunyai nama ilmiah Cuon alpinus. Di dalam bahasa Inggris anjing hutan ini disebut sebagai “Dhole”, Asiatic Wild Dog, India Wild Dog, danRed Dog. Di Malaysia binatang ini dikenal sebagai anjing hutan. Di beberapa daerah di jawa hewan ini dikenal sebagai ‘asu kikik’.

Ciri-ciri dan Perilaku:
Ajag (Cuon alpinus) mempunyai panjang tubuh sekitar 90 cm dengan tinggi badan sekitar 50 cm. Anjing hutan ini mempunyai berat badan antara 12-20 kg. Ajag memiliki ekor yang panjang sekitar 40-45 cm.
Binatang langka dan terancam kepunahan asli Indonesia ini memiliki bulu berwarna coklat kemerahan kecuali pada bagian bawah dagu, leher hingga ujung perut yang berwarna putih dan ekornya yang berwarna kehitaman.

Ajag biasa hidup berkelompok yang terdiri atas 5-12 ekor, bahkan hingga 30 ekor. Namun pada situasi tertentu, anjing hutan yang langka ini dapat hidup soliter (menyendiri) seperti yang ditemukan di Taman Nasional Gunung Leuser. Ajag melakukan perburuan mangsa secara bersama-sama yaitu dengan mengejar mangsanya yang lebih besar seperti babi hutan, kijang, rusa, banteng, dan kerbau. Tikus, kelinci, kancil dan binatang kecil lainnya juga menjadi makanan kesukaan binatang langka ini.
Hewan ini termasuk hewan yang lebih aktif di malam hari (nokturnal), walaupun tidak sepenuhnya aktifitasnya dilakukan di malam hari. Suara lolongnya terdengar jelas dan keras sedang suara salakannya terdengar lembut, seperti mendengking pendek berulang-ulang (suara” kik-kik-kik”). Mungkin lantaran itu dibeberapa daerah di Jawa binatang langka ini disebut dengan ‘asu kikik’.

Habitat dan Populasi:
Ajag (Cuon alpinus) mendiami kawasan pegunungan dan hutan. Binatang langka ini biasa membuat sarang di gua-gua dan liang yang tersedia. Anjing hutan yang berbeda dengan serigala ini tersebar di kawasan Asia mulai dari Bangladesh, Bhutan, Kamboja, China, India, Indonesia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Russia, Tajikistan, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia ajag dapat ditemukan di pulau Sumatera dan Jawa.

Populasi ajag mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Populasinya di seluruh dunia diperkirakan sekitar 2.500 ekor. Karena penurunan populasi ini, ajag kemudian dikategorikan dalam status konservasi endangered (Terancam Punah) oleh IUCN Redlist sejak 2004. Selain itu CITES juga memasukkan dalam daftar Apendix II.

Penurunan populasi ini terutama disebabkan oleh rusaknya hutan sebagai habitat ajag, berkurangnya hewan buruan (mangsa) ajag, dan perburuan liar. Di beberapa wilayah, ada pula yang kelebihan populasi ajag sebagai akibat dari tidak adanya predator pesaing yang membuat ajag sebagai predator tertinggi dalam ekosistem tersebut seperti yang terjadi di Taman Nasional Baluran.


Meskipun pernah dianggap sebagai binatang hama, karena selain memangsa binatang di kawasan hutan lindung, juga menyerang hewan ternak yang berkeliaran di tepi hutan , dan beberapa waktu yang lalu, kawanan ajag juga dianggap bertanggung jawab terhadap berkurangnya populasi rusa di Jawa Timur, seperti di Taman Nasional Baluran, namun binatang langka ini tetaplah sebuah aset buat bangsa Indonesia. Punahnya ajag, anjing hutan asli Indonesia, merupakan kerugian besar bagi kita semua.
 
Sumber Artikel : http://www.biodiversitywarriors.org/ajag-anjing-hutan-yang-terancam-punah.html
Sumber Foto : http://panduanwisata.id/files/2014/12/anjing-ajag-dari-str-tn.org_.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzVz7BM_B2uuHOFrJU9xs5mryWCYFWrL7dmW9eR90_-Iia1nnO981Ui2Mv9yZ3VvmzjMMhkUvC-RGkJrDDwDy6qq_cgjSTri1pBcG-JEKM9_JNFtQfxVpvyg1Ps_XqUv2zZT_c6QhU6YI/s1600/tumblr_mtysue9MEb1re1nvdo1_1280.jpg
walkthewilderness.net/wp-content/uploads/2014/11/Wild-Dog-in-Bandipur-Fjpg.jpg



Anjing Tutul Afrika (Lycaon pictus)

African Wild Dog (Lycaon pictus) – Anjing liar Afrika juga disebut anjing tutul atau anjing cape pemburu, mereka berkeliaran di dataran terbuka dan hutan yang jarang pepohonan sub-Sahara Afrika. 

Anjing liar Afrika adalah jenis binatang menyusui (Mamalia), status Karnivora (pemakan daging), rentang hidup rata-rata di alam bebas sampai dengan 11 tahun. Ukuran tubuh mereka, panjang 29,5-43 inchi (75 sampai 110 cm), berat:39,5-79 lbs (18 sampai 36 kg), status perlindungan terancam punah.

Hewan-hewan ini bertaring panjang dan hanya memiliki empat jari pada setiap kaki, tidak seperti anjing lainnya yang memiliki lima jari di kaki depan mereka. Nama latin anjing ini adalah “painted wolf”  yang berarti “serigala tutul”. Nama ini mengacu bahwa binatang ini memiliki warna yang tidak teratur, berbintik-bintik tutul pada bulu tubuhnya yang memiliki bercak merah, hitam, coklat, putih dan kuning. Setiap hewan ini memiliki pola mantel yang unik dan semuanya memiliki telinga yang besar dan bulat.

Anjing liar Afrika ini hidup dalam kelompok serigala yang biasanya didominasi atau dipimpin oleh pasangan yang paling kuat. Betina memiliki anak mulai 2 sampai 20 ekor anak anjing, yang dirawat oleh seluruh anggota kelompok. Anjing-anjing ini hidup sangat sosial dan kelompok mereka dikenal dalam berbagi makanan dan saling membantu bagi anggota yang lemah atau sedang sakit. Dalam berinteraksi sosial, anjing-anjing ini berkomunikasi dengan sentuhan, tindakan, dan vokalisasi.

Kawanan serigala Afrika ini berburu secara berkelompok dengan beranggotakan sekitar 6 sampai 20 ekor dan bahkan lebih pada setiap kelompok. Kelompok serigala yang beranggota lebih besar akan berburu antelop dan juga menangani mangsa-mangsa yang lebih besar seperti wildebeests, zebra dan lain-lain, terutama jika buruan besar mereka sedang sakit atau terluka. Selain itu anjing-anjing ini juga memangsa tikus dan burung.

Seiring perkembangan pemukiman manusia, serombongan serigala ini kadang-kadang juga memangsa ternak mereka, meskipun tidak menimbulkan kerugian yang parah. Sayangnya, kawanan serigala ini sering diburu dan dibunuh oleh para petani yang takut kehilangan hewan ternak mereka.

Kini anjing pemburu Afrika ini sedang terancam punah. Mereka menghadapi penyempitan habitat dalam mencari mangsa oleh pembukaan lahan pemukiman dan peternakan. Mereka juga cukup rentan terhadap penyakit yang disebarkan oleh hewan domestik seperti ternak dan anjing gembala.

Sumber Artikel : http://juragancipir.com/anjing-tutul-afrika-lycaon-pictus/
Sumber Foto : http://juragancipir.com/wp-content/uploads/2012/02/Anjing-liar-afrika1.jpg
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRMV_oW9QHJUUIjUvOUELarIGp5-yCOo9PSA5JRgTEXWOqyhjr2

Ras Anjing Terlangka Mendiami Papua

Memang betul kaya negeri ini. Beragam flora dan sumber penghidupan tumbuh di tanah ini. Begitupun fauna, ribuan spesies unik mendiami belantara kepulauan kita. Termasuk spesies langka satu ini, ras anjing yang tak kalah unik dengan burung beo dan komodo khas negeri ini.

New Guinea Singing Dog (Canis lupus hallstromi)
Salah satu ras anjing terlangka di dunia. Sesuai dengan namanya yang kalau diterjemahkan berarti Anjing Bernyanyi dari Nugini, keunikan ras ini memang dari kemampuannya mengeluarkan suara lengkingan seperti serigala. Banyak asumsi yang menyimpulkan bahwa nyanyian ini adalah sifat bawaan mereka karena mereka termasuk ras anjing primitif yang kekerabatannya masih dekat dengan serigala dan anjing liar australia (dingo).


Habitat aslinya adalah hutan-hutan di pulau Papua dengan pegunungan di ketinggian diatas 180 meter dan hidup di dataran hutan yang terjal. Habitat ini memungkinkan anjing ini menjadi lincah, lentur dan membuatnya mampu memanjat pohon layaknya seekor kucing.
Anjing ini bukanlah tipe anjing keluarga atau anjing rumahan, sifatnya yang masih primitif membuat anjing ini independen seperti kucing dan sedikit liar. Walaupun mereka dapat dilatih, namun mereka terkadang mengabaikan perintah dari pemilik dan melakukan hal lain yang mereka mau (karena sifat independen mereka), dan harus saya katakan lagi, sifat ini hampir mirip dengan kucing.
Ciri-ciri utama ras ini secara fisik memiliki tinggi rata-rata 43 cm dan berat rata-rata 12 kg. Warna bulu merah keemasan, coklat, hitam, atau belang dengan salah satu dari ketiga warna tadi dengan warna putih di bawah leher, ekor dan kaki bagian bawah.
 
Sayangnya, ras langka ini diperkirakan hanya tinggal 100 ekor yang tersisa di konservasi, dan lebih sedihnya, konservasi tersebut bukanlah di Indonesia, tetapi di Amerika Serikat. Upaya untuk mencari dan menangkap anjing ini di belantara Papua untuk di bawa ke konservasi di Amerika dan dikembangbiakkan disana pernah dilakukan pada tahun 1993-1994, namun usaha ini sia-sia, mereka tidak menemukan spesies ini di Papua.

Mudah-mudahan ras ini masih tetap eksis di dunia dan darisini kita bisa belajar untuk menjaga agar jangan ada lagi mahluk Tuhan yang punah di negeri ini dan dunia.



Sumber Artikel : http://www.kompasiana.com/abetobing/ras-anjing-terlangka-ada-di-indonesia_54ff9c1fa33311194d510859
Sumber Foto :https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQMAYbrMLHgGtfAywRImkU43UabuB_V-VbGBdxyWc0dvUNx0Hvd
data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBxMTEhUTExMVFhUXFxUXFxUVGBUVGhcYFhcWFxUXFxYYHSggGBolHRUV
Sumber Video : https://youtu.be/mwxV1wbBrfU

Sabtu, 15 Juli 2017

Kelangkaan "VAR" Sangat Merugikan!

Menurut Tribun Bali pada tahun 2015.
Sebanyak 1.327 ekor anjing di Buleleng, Bali, dieliminasi sejak April sampai Oktober 2015.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Buleleng, Wayan Susila mengatakan, eliminasi ini adalah bagian dari kontrol populasi anjing dalam penanggulangan rabies.
Kini estimasi anjing di Buleleng mencapai 80 ribu ekor.

Dari jumlah tersebut, 58.018 ekor anjing di seluruh wilayah Buleleng telah divaksinasi.
“Eliminasi ini adalah bagian dari kontrol populasi anjing, sedangkan untuk vaksinasi anjing semua desa di Buleleng sudah tercover,” ujarnya.
Sementara untuk jumlah Vaksin Anti Rabies (VAR) untuk hewan kini masih aman.
Jumlahnya mencapai 70 ribu vaksin.

“Dan November ini pusat akan kembali mengirimkan vaksin. Saya rasa vaksin untuk anjing tidak menjadi kendala, yang penting pemeliharaannya,” katanya.
Ia berharap agar masyarakat dapat lebih bertanggungjawab dalam memelihara anjing.
Satu di antaranya dengan melakukan vaksin sejak anjing itu dilahirkan.
“Kalau anjing nggak dipelihara dengan baik maka peluang untuk penyebaran rabies akan selalu ada. Kami berharap masyarakat bisa melakukan vaksin anjing terutama anak-anak anjing kan gampang, tinggal bawa di sini kita juga melayani, di semua kantor kecamatan juga menerima pelayanan vaksinasi anjing,” tuturnya. 

Tetapi apa yang terjadi ketika 2 tahun berselang?
Angka kasus gigitan HPR (Hewan Penularan Rabies) di Bali selama triwulan pertama 2015 relatif sangat tinggi di tengah kelangkaan VAR (Vaksin Anti Rabies) di beberapa daerah di Bali.
Dalam tiga bulan terakhir saja, di seluruh wilayah di Provinsi Bali sudah mencatat 9.133 orang yang tergigit hewan penularan rabies.

Sedangkan jumlah yang disuntikan VAR sudah sejumlah 8.242 orang.
"Angka tersebut memang relatif tinggi dibandingkan tahun lalu," ujar Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr Gede W
ira Sunetra.
 
Bulan Maret ini pun terjadi kasus gigitan Anjing Rabies ini terjadi pada Selasa (28/2) lalu di Banjar Sarikuning, Tulungagung, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya.
Seekor anjing milik warga setempat, Made Nesa dilaporkan telah menggigit pemiliknya beserta 2 orang warga lainnya.
Anjing ini diketahui positif Rabies setelah dilangsungkan uji lab pada sampel otaknya di Balai Besar Veteriner Denpasar pada Rabu (1/3) keesokan harinya.
Beralih pada kasus gigitan kedua yang terjadi pada Sabtu (4/3) dan Minggu (5/3) di Banjar Pangkung Jelati, Desa Yeh Sumbul, Kecamatan Mendoyo. 

Saat itu, seekor Anjing Ras jenis Peking milik warga setempat yakni Luh Suryanti mati mendadak.
Sehari sebelumnya, anjing ini diketahui sempat menggigit 2 orang anggota keluarga pemiliknya serta 4 orang warga setempat lainnya.
Anjing Peking ini juga dinyatakan positif Rabies usai uji lab pada sampel otaknya yang dilangsungkan di Balai Besar veteriner Denpasar pada Senin (6/3) keesokan harinya.

 Ini lah perlu menjadi kecaman kepada seluruh elemen masyarakat agar saling bahu membahu agar semua proses yang telah direncanakan oleh pihak pemerintah berjalan sesuai, yang memiliki anjing diharapkan telah menyuntikan "VAR" atau "Vaksin Anjing Rabies" sejak anjing masih dini.

Sumber artikel : 
http://bali.tribunnews.com/2017/03/10/lagi-dua-kasus-gigitan-positif-rabies-kembali-ancam-2-desa-zona-merah
http://bali.tribunnews.com/2015/10/12/1327-anjing-di-buleleng-dieliminasi-sejak-april-2015
http://bali.tribunnews.com/2015/04/06/var-langka-9133-orang-di-bali-tergigit-hewan-penular-rabies
Sumber Foto :
http://cdn2.tstatic.net/bali/foto/bank/images/ilustrasi-rabies-22.jpg
https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2015/04/20/529633/670x335/cegah-rabies-ratusan-anjing-liar-disuntik-vaksin.jpg

Jumat, 14 Juli 2017

Bagaimana Anjing Kintamani Itu?

Anjing Kintamani adalah ras anjing yang berasal dari daerah pegunungan Kintamani, pulau Bali. Anjing yang memiliki sifat pemberani ini sudah lama mulai dibiakan sehingga dapat diakui oleh dunia internasional.
Secara fenotipe Anjing Kintamani mudah dikenal, dapat dibandingkan dengan jelas antara Anjing Kintamani dengan anjing-anjing lokal yang ada, ataupun anjing hasil persilangan antara ras yang sama maupun persilangan lainnya.
Standar fenotipe Anjing Kintamani meliputi ciri-ciri umum, sifat-sifat umum, tinggi badan hingga ke gumba, dasar pigmentasi kulit, bentuk kepala, telinga, mata, hidung, gigi, bentuk leher, bentuk badan, kaki dan ekor mempunyai kesamaan. Perbedaannya pada distribusi warna rambut dan ditetapkan pada tanggal 16 Oktober 1994. Standar ini dipakai sebagai acuan dasar pada setiap kontes anjing dan pameran Anjing Kintamani dan telah mendapat pengakuan PERKIN (Dharma.M.N. Dewa; PudjiRahardjo; Kertayadnya I.G, 1994.).

Untuk memperoleh standar Anjing Kintamani diperlukan pengamatan dan penelitian yang terus menerus dan berkelanjutan. Gambaran sementara yang dapat dilihat dari keunggulan Anjing Kintamani dari hasil pengamatan lapangan dan hasil pemuliabiakan pada Anjing Kintamani yang berrambut putih spesifik dapat diuraikan sebagai berikut:

Ciri-ciri umum

Anjing ini dapat digolongkan dalam kelompok anjing pekerja dengan ukuran sedang, memiliki keseimbangan tubuh dan proporsi tubuh yang baik dengan pertulangan kuat yang dibungkus oleh otot yang kuat, sebagai anjing pegunungan memiliki rambut yang panjang (moderat) dengan warna putih spesifik, hitam atau cokelat. Pengelompokan dalam sistem FCI, anjing Kintamani masuk dalam group V karena memiliki ciri-ciri anjing spitz dan tipe primitif seperti Chow Chow, Basenji, dan Samoyed.

Sifat-sifat umum

Anjing Kintamani memiliki sifat pemberani, tangkas, waspada dan curiga yang cukup tinggi. Merupakan anjing penjaga yang cukup handal, sebagai pengabdi yang baik terhadap pemiliknya, loyal terhadap seluruh keluarga pemilik dan tidak lupa pada pemilik atau perawatnya. Anjing Kintamani (Bali) suka menyerang anjing atau hewan lain yang memasuki wilayah kekuasaannya dan juga menggaruk-garuk tanah sebagai tempat perlindungan. Pergerakannya bebas, ringan dan lentur.

Bentuk kepala

Kepala bagian atas lebar dengan dahi dan pipi datar, moncong proporsional dan kuat terhadap ukuran bentuk kepala, rahang tampak kuat dan kompak, memiliki gigi-gigi kuat dengan gerakan gigi seperti menggunting, bibir berwama hitam atau cokelat tua. Telinganya tebal, kuat, berdiri berbentuk “V” terbalik dengan ujung agak membulat. Jarak antara kedua telinga cukup lebar, panjang telinga kurang lebih sama bila dibandingkan dengan jarak antara dasar dua telinga bagian dalam dengan sudut mata luar.
Mata berbentuk lonjong seperti buah almond dengan bola mata berwarna cokelat gelap dan bulu mata berwarna putih. Hidung berwarna hitam atau coklat tua dan warna hidung ini sering berubah karena penambahan umur dan musim.
Untuk mempercepat pengakuan dari Federasi Kinologi Internasional, dalam memenuhi persyaratan perlu upaya-upaya secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu upaya adalah meneliti hubungan antara stuktur dan profil DNA distribusi warna rambut putih spesifik secara genotip dengan fenotip warna rambut putih spesifik pada Anjing Kintamani.
Distribusi warna rambut pada Anjing Kintamani dapat dikelompokkan menjadi 4 macam yaitu:
  1. Warna rambut putih sedikit kemerahan dengan warna coklat-kemerahan pada telinga, rambut di bagian belakang paha dan ujung ekornya.
  2. Warna hitam mulus atau dengan dada putih sedikit.
  3. Warna coklat muda atau cokiat tua dengan ujung moncong kehitaman, sering disebut oleh masyarakat sebagai warna Bang-bungkem.
  4. Warna dasar coklat atau coklat muda dengan garis-garis warna kehitaman, yang oleh masyarakat disebut warna poleng atau anggrek.

Tinggi dan bentuk badan

Anjing Kintamani jantan mempunyai tinggi 45 cm sampai 55 cm dan anjing betina 40 cm sampai 45 cm. Dengan warna rambut kebanyakan berwarna putih spesifik (sedikit kemerahan) dengan warna merah kecoklatan (krem) pada ujung telinga, ekor dan rambut di belakang paha. Warna lainnya adalah hitam mulus dan cokelat dengan moncong berwarna hitam (bangbungkem), pigmentasi kulit, hidung, bibir kelopak mata, skrotum, anus dan telapak kaki berwarna hitam atau cokelat gelap.
Lehernya tampak anggun dengan panjang sedang, kuat dengan perototan yang kuat pula. Dada dalam dan lebar, punggung datar, panjangnya sedang dengan otot yang baik. Badan anjing betina relatif lebih panjang dari jantan. Anjing Kintamani (Bali) memiliki rambut krah (badong) panjang berbentuk kipas di daerah gumba, makin panjang rambut badong makin baik.
Kaki agak panjang, kuat dan lurus jika dilihat dan depan atau belakang. Tumit tanpa tajir, gerakan kaki ringan. Ekor memiliki rambut yang bersurai, posisinya tegak membentuk sudut 45 derajat atau sedikit melengkung tetapi tidak jatuh atau melingkar di atas pinggang atau jatuh ke samping. Makin panjang rambut ekor makin baik .

Anjing Kintamani Di Tanah Dewata



Cicing Kintamani sebutan yang melekat pada spesies anjing asli dari Indonesia.
Anjing ini habitatnya terletak di dekat hutan Danau Batur,Kintamani, anjing kintamani memiliki bulu yang cukup tebal dan kebanyakan berwarna putih, kulit yang tebal berfungsi sebagai pelindung anjing ketika cuaca di Kintamani menjadi dingin.

Jika kalian mengetahuinya, pasti kalian tau dong gimana dia kalo dikasi makanan?
Anjing kintamani dianggap anjing yang mudah untuk dirawat, apapun yang diberi oleh majikannya, dia pasti akan melahapnya dengan senang hati, patuh terhadap majikannya ketika diajak ke sawah.

Tapi kenapa masyarakat Bali lebih menyukai ras anjing luar?
Anjing yang banyak menghabiskan dana untuk perawatan, dan lain lain
makanan yang diberikan berbentuk sereal tidak boleh sembarangan.

Inilah 3 penyebabkan terjandinya penurunan terhadap anjing kintamani :
1. Datangnya ras anjing lain ke Bali
2. Kejadian penyakit rabies menyerang Anjing Kintamani ditahun 2000-an
3. Pembunuhan anjing secara masal

Jika semua orang memilih anjing ras luar daripada anjing kintamani sendiri, apa yang terjadi?

Maka dari itu kita sebagai masyarakat bali khusunya harus ikut dalam kegiatan konservasi anjing kintamani, jika kalian memilikinya pastikan sudah diberi suntik rabies.

Warga Negara Asing (WNA) kebanyakan menyukai anjing kintamani, entah kenapa, tapi saya merasa bangga dan salut dengan turis turis yang sedang berada di Bali yang telah mau mengadopsi anjing bali.

#SaveKulukBali

Sumber Foto : 2.bp.blogspot.com/-_5s6rqR2Nps/UBJp5CgDTVI/AAAAAAAAAEE/NzGWVphHWrs/s1600/IMG_4771.JPG

Bagi Masyarakat Bali, Anjing Bali itu Peliharaan atau Ternak?


BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat. Ketiga konsep menuju kerukunan dan kebahagiaan itu salah satunya adalah palemahan. Hubungan harmonis manusia dengan alam, begitu mereka menyebutnya.
Ketika kita melihat media sosial saat ini banyak sekali artikel yang beredar, entah itu hoak atau memang berita itu benar, dari berita provokasi hingga berita kebencian. Kebencian akan tindakan pemerintah mengeliminasi anjing di Bali seakan menjadi booming di kalangan pecinta satwa. Caci maki tersurat di media yang dipenuhi dengan dengki. Seakan semua tindakan yang dilakukan itu salah.
Ya, mereka salah, mereka yang membunuh adalah sebuah dosa jika kita pandang dari ajaran Ahimsa (tidak membunuh), namun dilain pihak kita dapat melihat bagaimana sebuah keluarga yang meninggal karena gigitan anjing rabies. Seberapa pilu penderitaan mereka karena anggota keluarganya meninggalkan mereka karena sebuah gigitan anjing. Kita tak bisa menyalahkan mereka yang menjadi korban dan membenci akan keberadaan anjing.

Fanatisme berlebih akan kecintaan terhadap anjing menjadi cikal bakal kebencian program eliminasi. Ya, mereka memang cinta terhadap satwa, itu adalah salah satu proyeksi ajaran palemahan, saling cinta terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan. Namun ketika kecintaan itu menjadi berlebihan sehingga menimbulkan suatu kebencian, bukanlah sebuah cinta lagi. Melainkan adalah sifat fanatisme.
Kita sebagai pecinta satwa haruslah logowo, mencari solusi, mencari jalan, bukan menghujat, membenci dan hanya menyalahkan. Cukuplah kita sebagai pecinta satwa merawat dengan baik peliharaan kita, karena dengan itu kita akan benar mencintai satwa.
Masyarakat Bali, anjing di Bali, memiliki hubungan yang telah terjalin sejak lama. Ketika anjing kintamani Bali menjadi maskot daerah Kintamani dan dinamai anjing gembrong oleh masyarakat lokal. Anjing gembrong merupakan anjing ras asli, yang telah ditetapkan dunia.

Masyarakat Bali terkenal dengan kearifan lokalnya, memelihara anjing sebagai penjaga rumah, dilepasliarkan namun akan kembali pada pemiliknya. Mereka dipelihara untuk mengatasi kesunyian di rumah, menjaga harta majikannya, dan ada yang percaya sebagai penjaga dari hal – hal gaib.
Namun benarkah peran mereka telah dibalaskan oleh pemiliknya? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Zaman dahulu anjing diberimakan seadanya oleh pemiliknya. Karena zaman itu semua masih dalam keterbatasan. Saat ini tidak, banyak pecinta anjing telah sadar dan telah merawat dengan baik, pakan yang sesuai, hingga diperlakukan seperti manusia, seperti sahabat dan peneman hidup.

Salahkah? Salah jika sesuatu yang berlebihan menjadi kebencian, tapi benar ketika itu didasari rasa cinta kasih terhadap makhluk Tuhan.
Anjing adalah ternak. Mungkin pecinta anjing tidak akan setuju dengan itu. Mungkin mereka akan mencaci orang yang berkata seperti itu. Anjing adalah ternak, anggapan itu lebih tepatnya disampaikan oleh masyarakat desa yang memelihara hanya untuk kebutuhan, seperti halnya celeng, ayam dan sapi. Mereka adalah ternak.

Anjing adalah ternak dan jika beranak kita berhak untuk membuang anaknya di pasar, Kita berhak membunuh mereka dan menyiksa mereka untuk berfoya – foya ditemani miras. Kita berhak memukul mereka, menendang mereka, menabrak mereka saat berkeliaran di jalan. Kita berhak membunuh mereka saat mereka dalam keadaan belatungan dan kesakitan. Kita berhak, ya kita berhak karena kita adalah majikan.kita berhak melakukan apapun.

Tenanglah, mari kita kembali lagi pada paragraf pertama dari artikel ini, Tri hita karana merupakan landasan masyarakat Bali. Apakah sesuai apa yang kita perbuat dengan landasan tersebut? Apa masyarakat Bali percaya dengan Karma?
Sebagian orang pasti akan menolak anggapan tersebut, “Tidak semua seperti itu?”
Memang tidak semua namun sebagian besar.
“Tidak, hanya sebagian kecil saja pastinya” tolak mereka.
Bukti konkretnya adalah lihatlah di jalanan, di pasar, seberapa banyak anjing yang berkeliaran? Mereka apakah benar liar? Ataukah mereka dibuang sejak kecil? Bagaimanakah kehidupan mereka sebenarnya?
Mungkin tidak banyak orang berfikir seperti itu. “Toh juga tidak ada hubungan dengan saya” seseorang akan menyeletuk seperti itu.
Kita telah mendapatkan Karma, Rabies merupakan pala dari perbuatan kita masyarakat yang telah membuat sebuah karma itu. Ada sebab ada hasilnya.

Kini eliminasi menjadi cekaman bagi pecinta anjing di Bali, mereka menghujat, mereka mencaci, membenci. Sedangkan penjalan program tersebut membela, mereka hanya menjalankan tugas mereka, menjaga keselamatan masyarakat dari rabies dan seterusnya.
Apapun yang mereka lakukan dianggap salah oleh pecinta anjing. Sedangkan apapun protes dari pecinta anjing lakukan, dianggap salah dan penggangu oleh pelaksana tugas. Konflik yang tak akan selesai. Karena asas kebencian adalah pondasi pereteruan, bukan asas kritis mengkritisi sesuatu.
Ketika pemerintah bertanya pada pecinta anjing, apa yang harus kami lakukan? Mereka bungkam. Sedangkan pecinta satwa selalu mengatakan “Tidak ada cara lain?”, “Tidak adakah cara lain selain eliminasi?”

Tentunya ada, namun membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Caranya adalah pemerintah harus mengkarantina anjing liar, bukan hanya satu, tapi semua. Bayangkan, mensteril semua anjing liar, memvaksinasi anjing liar, bukan hanya sebagian, tapi semuanya. Apakah bisa dilakukan? Bisa. Berapa anggaran yang harus dikeluarkan? Banyak, Apakah ada dananya? Sebenarnya ada. Lalu kemana dananya? Pertanyaan umum dengan jawaban umum, Korupsi.

Belahan pane belahan paso, ade kene ade keto yang artinya di dunia ini ada bermacam-macam hal. Lalu apakah kita akan serta merta menolak semua hal dan menerima semua hal? Humans have brain, hearth and feeling to think and feel. Hanya saja semua itu ditutupi oleh dengki. Let’s do the best.


Sumber Artikel : http://tatkala.co/2016/08/23/bagi-masyarakat-bali-anjing-bali-itu-peliharaan-atau-ternak/
Sumber Foto: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9ObJcD7WA5aYejczOvx8ie1HDHTqS2EvTpn57OdM_TOhxA9j9dSvHDRfs-nHSAyc5EBWS63oLoSugdZIj84ynGdHkqcudOJFpRdfaEjt5NFgC721WPYySBxnywYPGplkqN0r40ZXQnMz7/s1600/ind11ex.jpg

Rabu, 12 Juli 2017

Kuluk Bali Terancam!

Sempat tak ada kabar, kini anjing bali kembali menjadi sorotan,bukan bagaimana anjing bali banyak peminatnya tetapi dijadikan ajengan "RW", tak hanya di Bali, bakan hingga ke luar negeri.

Dikutip dalam wikipedia.
"RW" berarti singkatan dari rintek wuuk (Dalam Bahasa Manado: "bulu halus"), suatu eufemisme anjing.
Masakan Batak mengenal masakan daging anjing yang diberi kode B1, dari kata biang (Dalam Bahasa Batak: "anjing"), meskipun bukan makanan terpopuler dalam kuliner Tapanuli. Di beberapa kota di Jawa seperti Solo dan Yogyakarta , sate daging anjing disamarkan dengan sebutan "sate jamu", sedangkan sebutan tongseng daging anjing adalah sengsu, singkatan dari tongseng asu (Dalam Bahasa Jawa: "tongseng anjing").

Banyak dari kita kurang memperhatikan anjing anjing yang berkeliaran dijalanan, banyak kasus penculikan anjing di Daerah Denpasar dan sekitarnya,membuat warga resah karena takut sate yang dibeli warga tercampur daging "RW".

Maka dari itu kita sebagai masyarakat di jaman global ini, harus bergerak dan bertindak, agar kuluk bali tetap ada.
Gerakan kalian merupakan langkah awal menuju konservasi terhadap Anjing khususnya di Bali!
Suksmaa


sumber gambar :http://cdn2.tstatic.net/style/foto/bank/images/sate-anjing_20170620_171247.jpg